Selasa, 06 Maret 2012

mamaku sibuk sekali Cerpen oleh Syafa Aldiena Meraldin


 
Juara 1 Mengarang tingkat Kabupaten diselenggarakan Oleh HMI Tahun 2011

Pulang sekolah hatiku berbunga-bunga  karena aku mendapat nilai semester yang bagus kali ini. Aku ingin membawa kabar gembira ini untuk mama. Dengan penuh semangat aku mengayunkan langkah kaki menuju ke rumah. Aku bayangkan mama ku pasti sama gembiranya dengan aku mendengar kabar ini. Dan mungkin mamaku bangga padaku.
“ Assalamualaikum…..!” aku membuka pintu rumah dan setengah berlari masuk ke rumah. “ Assalamualaikum….!” Kuulangi lagi salamku. Rumah kutemukan dalam keadaan sepi. Hanya pembantu di rumah yang menjawab salamku.
Jam satu siang seperti ini mama biasanya sudah pulang istirahat dari kantornya. Kebetulan kantor mama sangat dekat dengan rumah. Mamaku adalah seorang dokter yang bertugas di puskesmas.
“ Mama mana Bi?” tanyaku pada pembantuku.
Ternyata mamaku belum pulang. Menurut bibi pembantu, tadi mama pamit untuk rapat di kantor bupati. Aku kecewa.  Aku pun mencoba menghibur diriku dengan sholat.  Setelah sholat pikiranku menjadi tenang dan kecewaku hilang.  Karena merasa lapar aku pun makan duluan tidak menunggu mama seperti biasa. Aku makan sendirian ditemani pembantuku. Sampai aku selesai  makan mama belum pulang. Sambil menunggu mama aku mencoba mengisi waktuku  dengan  membaca buku . Tak terasa ternyata aku tertidur. Aku bangun sekitar pukul empat sore.   Ternyata mama belum pulang juga.  Kembali aku kecewa karena tidak bisa segera menyampaikan kabar gembiraku. Aku pun mencoba menelpon mama. Berkali-kali tak diangkat. Lama baru aku mendapat jawaban lewat sms .
“ Maafkan mama terlambat pulang. Mama sedang rapat penting dan belum selesai”
Untuk mengusir kecewaku  , aku pergi mandi setelah itu  bermain bersama teman-temanku. Menjelang pukul enam sore aku pulang ke rumah. Aku berharap saat ini aku sudah bisa bertemu dengan mama. Dengan mengendap-endap ingin membuat kejutan aku masuk ke kamarnya.  Kubuka pintu secara perlahan. ” Doo…rr!” Aku mengacungkan telunjuk seperti orang pegang pistol. Ternyata di kamar hanya ada papa yang sedang beristirahat .

 
“ Assalamualaikum, dari mana cantik? “ Papa menyapaku.
“ Waalaikumsalam. Mama mana Pa? “ Tak kuhiraukan pertanyaan papa karena aku penasaran tak menemukan mama.
“ Kenapa? Mama tadi pulang sebentar saat kamu bermain. Setelah mandi dan sholat segera pergi ke tempat praktek karena sudah banyak pasiennyPa yang menunggu di sana. “
Seketika aku terdiam dan tak bisa menutupi kekecewaanku. Aku menangis sambil menutup pintu kamar. Aku berlari masuk kamarku. Kutumpahkan segala kecewaku pada mama dengan menangis sepuasnya di atas bantal. Menurutku mama tak mau peduli padaku. Mama sibuk terus dengan urusannya sendiri. Hanya untuk mendengar berita gembiraku saja tak punya waktu. Aku iri melihat teman-teman yang saat pulang sekolah disambut mamanya di muka pintu. Saat sore hari ditemani bermain. Saat malam hari ditemani belajar dan dibacakan dongeng sebelum tidur. Aku jarang menerima perlakuan seperti itu dari mama karena kesibukannya banyak sekali. Aku terus marah dan menangis. Entah kapan aku bisa dengan bangga menyampaikan kabar gembira tentang prestasiku pada mama. Aku bisa menyampaikan berita itu pada papa, tapi aku ingin semua mendengar. Aku ingin bukan hanya papa yang bangga , tapi juga mama.
Sebuah usapan lembut terasa di kepalaku. Aku membalikkan muka dari bantalku. Aku lihat papa tersenyum lembut dan berkata: “ Ada apa cantik?” sebuah sapaan sayang dari papa yang membuatku senantiasa bangga menjadi anaknya. “ Kok pulang bermain tiba-tiba menangis?”
Aku mengusap air mataku. Aku berusaha tersenyum kepada papa.
 “ Ada apa? Cerita dan papa siap mendengar bos!” papa kembali tersenyum sambil mencubit hidungku.
Setelah merasa agak tenang aku berusaha mengungkapkan isi hatiku ke papa. Aku ceritakan bahwa aku mendapat nilai bagus saat ulangan akhir semester. Aku tunjukkan lembar soal yang sudah dinilai untuk di tandatangani papa.

 
“ Aku sejak pulang sekolah ingin menunjukkan ini ke mama. Tapi sampai sekarang aku belum bertemu mama. Aku kan ingin mama bangga. Tapi ternyata mama tak punya waktu. Mama tak peduli padaku.” Aku nyerocos mengeluh kepada papa. Papa diam saja membiarkan aku menumpahkan kekecewaanku.
 “ Kenapa mama sibuk terus? Apa mama lupa padaku?  Padahal mama yang minta aku supaya berprestasi. Sekarang aku sudah berprestasi, tapi mama tak peduli. Mama tak punya waktu melihat nilai-nilaiku!” Nadaku protes dan agak tinggi. Aku diam dan air mataku masih terus mengalir . Suasana menjadi hening.
Sejenak kemudian papa memelukku . Pipiku dicium dengan sayang sambil meneruskan usapan lembut di kepalaku. Aku menjadi tenang. Tangisanku mulai mereda.
“ Maafkan mama ya sayang. Bukan mama tak perduli padamu. Mama sesungguhnya sangat sayang kamu. Tapi kamu juga harus mengerti, mama  adalah seorang dokter yang dibutuhkan masyarakat. Kamu harus ikhlas merelakan waktumu berkurang bersama mama. Kalau mama tak sibuk, papa yakin dia selalu berusaha menemanimu. Bukankah selama ini begitu?”
“ Tapi hari ini menurutku istimewa . Aku ingin mama adalah orang yang pertama bangga mendengar  prestasiku” jawabku melanjutkan keluh kesah.
“ Mama sebagai dokter adalah amanah Allah. Harusnya kamu bangga memilki mama yang bisa membantu meringankan penderitaan orang lain. “
Aku terdiam dengan kata-kata papa.
“Ayo kita sholat magrib sambil menunggu mama pulang” ajak Papa.
Kami sholat berjamaah tanpa mama. Mungkin mama sholat sendiri di tempat praktek. Aku mulai kasihan pada mama. Aku bayangkan mama pasti capek.
Setelalah makan malam berdua dengan papa, aku belajar sementara papa pergi ke tempat praktek menggantikan mama. Aku gelisah menunggu mama pulang.  Sampai menjelang pukul 9 malam ternyata mama belum pulang juga. Aku sudah mulai mengantuk, tapi aku masih berupaya menuggu mama.
Aku keluar rumah untuk menghilangkan ngantuk. Aku berjalan-jalan di seputar halaman Puskesmas ( rumahku di kompleks Puskesmas ) dan berharap mama segera muncul. Aku bertemu dengan pak Satpam yang berjaga di posnya. Ternyata menurut keterangannya mama sedang di ruang UGD menolong pasien gawat. Aku layangkan pandanganku ke UGD yang tak jauh letaknya dari tempatku berdiri. Semoga mama segera keluar batinku. Tak sengaja mataku melihat anak perempuan seumurku sedang menangis di dekat pintu masuk UGD.
“ Kenapa anak itu menangis Pak?” tanyaku pada pak Satpam.
“Ibunya sedang dirawat di UGD karena kecelakaan!”
Dug! Jantungku langsung berdebar. Aku iba melihat anak itu. Aku bayangkan bagaimana sedih hatinya . Aku minta ditemani pak Satpam mendekati anak perempuan itu. Aku coba menghibur dan memperkenalkan diriku.
“ Berdoalah! Kata mamaku doa anak untuk orang tua selalu dikabulkan oleh Allah.”
“ Aku takut ibuku meninggal!” rintihan anak itu menyayat hatiku.

 
Saat itu hilang semua rasa marah,kesal dan kecewaku  Aku pun membayangkan bila itu terjadi padaku pasti aku sedih sekali. Aku pun bersyukur kepada Allah kejadian itu tidak menimpa diriku.
 Aku menyesal hari ini memendam rasa marah kepada mama. Ternyata mama terlambat pulang untuk menyelamatkan nyawa seorang ibu.  Aku berharap ibu anak itu bisa tertolong sehingga anak itu tidak sedih lagi. 
Beberapa menit kemudian mama keluar dari UGD. Alhamdulillah  ternyata ibu anak itu selamat. Anak itu pun bersyukur kepad Allah dan bersama ayahnya mengucapkan terima kasih kepada mama.  Aku ikut gembira .Aku  berlari memeluk mama . Aku  bangga kepada mamaku .  Dan aku semakin bangga saat mama bahagia melihat nilaiku.
“ Aku bangga padamu anakku!” bisiknya lembut sambil mencium pipiku.
“Maafkan aku mama. Aku sudah mengira mama tak sayang padaku!”
Aku akhirnya tidur di pelukan mama dan bermimpi indah.

0 komentar:

Posting Komentar